Langit Jawa Barat diprediksi masih pelit tetesan air dalam sepekan ke depan. Berdasarkan proyeksi meteorologis, fase kering ini menuntut warga memperketat manajemen konsumsi air di tengah ancaman dehidrasi lingkungan yang semakin nyata.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Bandung, sebagian besar wilayah Jabar akan mengalami hari-hari tanpa hujan yang signifikan. "Secara umum, curah hujan di Jabar masih cenderung rendah, namun potensi hujan dengan intensitas ringan masih diprakirakan terjadi secara lokal di sebagian wilayah Jabar," ujar Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, Minggu (13/9/2026).
Pengecualian kecil terpantau di Majalengka dan Kuningan yang berpotensi diguyur hujan sedang berdurasi singkat pada Jumat (18/9/2026), sementara rentang 14 hingga 20 September 2026 sebagian besar wilayah lain relatif kering melompong.
Mengutip laporan resmi BMKG, indeks Nino 3.4 di angka +2,54 membisu tanpa dorongan konvektif signifikan, didukung kelembapan udara 40-95 persen dan anomali suhu muka laut -3,0 hingga +3,5 °C yang memicu penguapan terbatas di Pesisir Utara.
Dari pengamatan tim redaksi, kombinasi minimnya pasokan air dan indeks panas harian menyaratkan perlunya intervensi cepat distribusi air bersih komunal agar beban warga di daerah kantong kekeringan tidak semakin berat.
"Kami imbau masyarakat dan instansi terkait supaya meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, semisal penurunan ketersediaan air bersih, kekeringan pada lahan pertanian, dan potensi peningkatan titik panas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan atau karhutla," tegas Suaidi mengingatkan publik.