Suasana Jalan Siliwangi mendadak berubah meriah pada Minggu, 13 September 2026. Berdasarkan pengamatan dan analisis awak media, kawasan yang biasanya dipadati oleh kendaraan bermotor tersebut dipenuhi oleh lautan manusia yang antusias menyaksikan perhelatan akbar hari jadi Kabupaten Kuningan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan dari lapangan, karnaval yang mengusung tema "Tumapak ka Jaman Baheula: Napak Tilas Kuningan" ini terbagi ke dalam lima grup utama. Setiap kelompok menampilkan representasi fase sejarah, mulai dari era prasejarah, pengaruh Hindu-Buddha, masa kolonial, hingga Perundingan Linggarjati dan era modern.
Kemeriahan acara ini juga dirasakan langsung oleh warga yang rela berpanas-panasan demi menyaksikan berbagai atraksi seni budaya. Sebagaimana diungkapkan oleh salah satu penonton asal Ciporang, Andri, ia bersama rekan-rekannya sudah tiba di lokasi sejak pagi buta demi mendapatkan tontonan yang menarik.
"Dari jam 7 di sini. Dari Ciporang, Kuningan. Datang bertiga sama teman-teman. Seneng ada budaya gini. Bisa lihat reog kuda. Nggak papa panas-panasan juga. Seneng," tutur Andri di tengah teriknya matahari.
Antusiasme serupa juga disampaikan oleh pengunjung asal Cirebon, Rahman, yang sengaja datang jauh-jauh untuk menikmati suguhan budaya tersebut. Mengutip laporan dari lokasi acara, kehadiran berbagai elemen masyarakat, institusi pendidikan, hingga komunitas kreatif membuat karnaval ini sarat akan pesan edukasi dan lingkungan.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menegaskan bahwa perhelatan budaya ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan sebuah momentum penting untuk merawat identitas daerah. Menurutnya, kemajuan zaman harus selalu diiringi dengan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur warisan para leluhur.
"Tradisi adalah akar, budaya adalah jati diri. Kita boleh modern, tapi kita tidak boleh lupa dan harus tetap mengingat jasa-jasa leluhur. Jati diri, tradisi harus jadi bagian hidup kita, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang," pungkas Dian dalam keterangannya.