Panggung politik Kota Cimahi mendadak diwarnai kejutan besar setelah Wali Kota Ngatiyana secara resmi didapuk menakhodai DPD Partai Golkar Kota Cimahi untuk masa bakti 2026-2030.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Langkah perpindahan partai ini sontak memicu reaksi keras sekaligus rasa kaget dari jajaran pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Barat.
Sebagaimana dilaporkan, PKB selama ini sengaja tidak memberikan beban jabatan struktural berat kepada Ngatiyana agar ia bisa fokus membereskan persoalan krusial di Cimahi.
Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran terbuka di Cimahi menyentuh angka 8,97 persen atau sekitar 27.979 orang, yang menjadi tantangan terbesar bagi kepemimpinannya.
Sekretaris Wilayah DPW PKB Jabar Acep Jamaludin menyatakan bahwa prioritas utama seorang kepala daerah seharusnya melayani rakyat ketimbang mengurus kursi ketua partai.
"Sejak beliau terpilih, amanat PKB hanya satu, fokus melayani dan menyelesaikan persoalan Kota Cimahi. Yang paling utama pengangguran, baru kemudian kemiskinan dan masalah lainnya," ujar figur yang akrab disapa Kang Ajam.
Pihak PKB merasa kecolongan karena kabar kepindahan tersebut disampaikan secara mendadak melalui sambungan telepon sehari sebelum pelaksanaan Musyawarah Daerah Golkar.
Menurut pengamatan awak media, perpindahan mendadak ini mengubah peta koalisi secara drastis mengingat Ngatiyana sebelumnya diusung oleh PKB dalam kontestasi Pilkada.
Konsekuensi logis dari keputusan tersebut membuat status keanggotaan Ngatiyana di PKB otomatis gugur serta dicopot dari jabatannya sebagai pengurus DPW PKB Jabar.
"Dengan menjadi Ketua Golkar Cimahi, secara otomatis beliau tidak lagi menjadi anggota Partai Kebangkitan Bangsa dan diberhentikan," tegas Acep.
Meskipun merasa ditinggalkan secara mendadak, PKB menegaskan sikap untuk tetap menghormati hak politik sang wali kota dalam menentukan arah masa depannya.
Di sisi lain, Ngatiyana mengeklaim proses transisi kepemimpinannya di tubuh Golkar berlangsung sangat singkat dan mengaku telah berpamitan kepada partai pengusung sebelumnya.
Menanggapi dinamika panas ini, analisis tim redaksi menilai bahwa tantangan terbesar Ngatiyana saat ini bukan sekadar merangkul kekuatan partai baru, melainkan menepati janji kampanye.
"Dua puluh tujuh ribu orang yang menganggur itu menunggu, dan mereka tidak peduli lambang partai apa yang dipakai. Itu yang akan terus kami ingatkan," pungkas Acep.