Tingkat kepercayaan publik di Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan signifikan pada bulan September, menyentuh titik terendah dalam empat bulan terakhir. Berdasarkan survei terbaru dari University of Michigan, tekanan ekonomi yang dirasakan rumah tangga kian membebani pandangan masyarakat terhadap kondisi finansial mereka.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Indeks Sentimen Konsumen secara keseluruhan terkoreksi ke angka 48.1 pada September, turun dari posisi sebelumnya di angka 51.7 pada Agustus. Penurunan ini dipicu oleh proyeksi keuangan pribadi konsumen yang melemah sekitar 10 persen, di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap eskalasi biaya hidup sehari-hari.
Menurut Joanne Hsu selaku Direktur Survei Konsumen, prospek jangka pendek dunia usaha merosot tajam di tengah kekhawatiran baru atas melonjaknya harga bahan bakar minyak serta ketegangan perdagangan internasional. "Prospek jangka pendek untuk kondisi bisnis merosot di tengah kekhawatiran baru bahwa harga bahan bakar yang tinggi dan sengketa perdagangan yang kembali memanas dapat berdampak buruk pada perekonomian secara keseluruhan," ungkap Hsu dalam keterangannya.
Dari analisis tim redaksi, tekanan ekonomi ini semakin diperparah oleh lonjakan ekspektasi inflasi masyarakat untuk tahun depan yang merangkek naik ke level 4.6 persen pada September dari sebelumnya 4.0 persen di bulan Agustus. Angka tersebut mencatatkan pembacaan tertinggi sejak pertengahan tahun, jauh melampaui proyeksi yang tercatat pada awal tahun.
Selain faktor domestik, gejolak geopolitik global dan kenaikan harga energi turut memberikan dampak langsung di tingkat lokal. Berdasarkan data dari AAA, harga rata-rata bahan bakar minyak melonjak secara drastis sejak awal konflik bersenjata, bahkan merangkek mendekati level USD 5 per galon secara nasional, sementara di wilayah California harga rata-rata telah menembus USD 6 per galon.
Di samping itu, ekspektasi inflasi jangka panjang untuk lima tahun ke depan turut terkerek naik ke posisi 3.4 persen pada September, mengakhiri tren stabil di kisaran 3.3 persen yang bertahan dalam tiga bulan sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa bayang-bayang inflasi masih akan menjadi tantangan berat bagi pemulihan daya beli masyarakat dalam waktu dekat.