Kepulangan Faisal Weskurni ke kampung halamannya di Kabupaten Bandung Barat menyisakan kisah perjuangan hidup yang luar biasa. Pemuda berusia 25 tahun tersebut merupakan salah satu dari ratusan penumpang yang berhasil selamat dari insiden tragis tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data manifes resmi, kapal tersebut mengangkut sebanyak 243 orang sebelum akhirnya mengalami musibah pada pekan lalu. Dari jumlah tersebut, tim penyelamat telah menemukan 121 orang dengan rincian 108 selamat, 13 meninggal dunia, dan ratusan lainnya masih dalam proses pencarian intensif.
Mengutip laporan dari awak media di lapangan, Faisal menuturkan bahwa bencana tersebut bermula ketika dirinya sedang berada di luar kapal untuk merokok. Suasana perjalanan yang awalnya tampak tenang mendadak berubah mencekam setelah terdengar suara ledakan misterius yang disusul dengan kemiringan ekstrem pada badan kapal.
"Jadi sebelum kejadian saya sempat dengar ada suara ledakan gitu cuma enggak tahu darimana. Setelah itu, kapal tiba-tiba jadi miring dan bagian dalam langsung gelap," ujar Faisal saat menceritakan detik-detik menegangkan tersebut kepada awak media.
Situasi di dalam kapal seketika menjadi kacau balau di tengah gelombang laut yang mencapai ketinggian hingga tiga meter. Tanpa membuang waktu, Faisal langsung berlari menyelamatkan diri dengan mengambil pelampung sementara sebagian penumpang lainnya masih terjebak di dalam kamar.
Berdasarkan analisis tim redaksi, kecepatan reaksi dalam situasi darurat di tengah laut menjadi penentu utama keselamatan para korban. Faisal menceritakan bagaimana dirinya harus berpacu dengan waktu sebelum badan kapal sepenuhnya tertarik ke dasar laut yang gelap.
"Banyak orang-orang yang minta tolong, saya lihat jauh banyak yang mulai kecebur. Di dalam itu masih ada yang tidur, jadi kita juga kebingungan," tambah Faisal menggambarkan kepanikan masif saat musibah itu terjadi di tengah perairan.
Setelah terombang-ambing selama berjam-jam di tengah laut lepas, secercah harapan akhirnya muncul ketika sebuah kapal tongkang datang memberikan pertolongan. Faisal bersama para penyintas lainnya berhasil dievakuasi setelah bertahan hidup dengan mengandalkan benda apa saja yang bisa mengapung.
Kini, Faisal telah kembali berkumpul bersama istri dan anaknya di Kampung Parakan Tolok, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta. Ia memutuskan untuk menunda keberangkatannya ke Kalimantan Tengah demi memulihkan kondisi fisik dan mental setelah trauma mendalam tersebut.