Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para ulama dan santri di masa lalu. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri ziarah dan tahlil umum dalam rangkaian Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren di Maqbaroh Gajah Ngambung, Kabupaten Cirebon, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam sambutannya di hadapan ribuan jemaah, tokoh yang akrab disapa Zulhas ini menyoroti kontribusi besar figur-figur sentral masa lampau, termasuk Kiai Abbas Buntet. Menurut analisis tim redaksi, penekanan sejarah ini menunjukkan betapa strategisnya posisi pondok pesantren dalam fondasi kemerdekaan nasional yang terus relevan hingga era modern.
"Tanpa Kiai Abbas, tidak ada NKRI," ujar Zulkifli Hasan di hadapan ribuan jemaah yang memadati area makam.
Zulhas menambahkan bahwa pesantren konsisten menjadi pilar penting bagi perjalanan bangsa, baik pada era perjuangan fisik melawan penjajah maupun dalam mengisi pembangunan saat ini. Berdasarkan pengamatan awak media, kehadiran para pejabat negara dalam acara haul semacam ini kerap dimanfaatkan untuk mempererat hubungan strategis antara pemerintah dan kalangan nahdliyin.
Pelaksanaan tahlil akbar di Maqbaroh Gajah Ngambung sendiri dipimpin langsung oleh para ulama setempat. Ketua Umum Panitia Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2026, Ammar Firman Maulana, mengungkapkan bahwa jumlah jemaah yang hadir membludak hingga mencapai kisaran 10 ribu sampai 15 ribu orang dari berbagai daerah.
"Perkiraan 10.000 sampai 15.000 orang. Karena selain masyarakat sekitar, juga ada santri, alumni, dan tamu dari berbagai daerah yang datang mengikuti tahlil di Maqbaroh," ungkap Ammar.
Rangkaian acara kemudian berlanjut pada malam harinya dengan agenda pembacaan ayat suci Al-Qur'an, mauidhoh hasanah, hingga doa bersama. Selain khidmat beribadah, momen tahunan ini juga menjadi magnet tersendiri bagi para alumni untuk bernostalgia dan mempererat tali silaturahmi.
Salah satu alumni, Alimuddin Nur, mengaku selalu berusaha meluangkan waktu untuk hadir setiap tahunnya demi menyambung silaturahmi dengan para kiai dan sesama rekan santri. Hal senada juga disampaikan oleh Deden yang memboyong keluarganya demi bisa mengikuti rangkaian haul sekaligus bertemu kerabat lama semasa mondok.