Institut Teknologi Bandung kembali mengambil langkah progresif dalam memastikan keberlanjutan finansial institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Melalui kolaborasi strategis bersama Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, kampus teknik ternama ini resmi membangun ekosistem dana lestari berbasis wakaf yang inklusif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, kerja sama tersebut diperkuat lewat penandatanganan perjanjian khusus antara Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari ITB dengan Wakaf Salman. Langkah ini tidak hanya mempererat hubungan historis kedua institusi, tetapi juga membuka peluang besar dalam optimalisasi dana umat untuk sektor pendidikan.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menegaskan bahwa hubungan antara institusinya dengan Masjid Salman sudah terjalin erat sejak lama melalui berbagai program nyata di masyarakat. "Antara Salman dan ITB tidak bisa dipisahkan. Sebelum penandatanganan ini terjadi, sudah banyak program yang dikolaborasikan, seperti KKN, beasiswa, penelitian, dan riset," ungkap Prof. Tata.
Lebih lanjut, Rektor ITB menjelaskan bahwa inisiatif pengelolaan dana lestari secara syariah ini lahir dari aspirasi para alumni yang ingin berkontribusi secara berkelanjutan. Kehadiran Wakaf Salman dinilai menjadi solusi tepat untuk menjembatani penyaluran dana abadi yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat islam bagi sivitas akademika.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus YPM Salman ITB, Prof. Dr. Ir. Suwarno, M.T., menyambut baik sinergi jangka panjang ini sebagai fondasi penting bagi kemandirian kampus di masa mendatang. Penguatan ekosistem wakaf ini akan difokuskan pada tiga pilar utama demi menjangkau kesadaran publik yang lebih luas.
"Ekosistem wakaf sebagai bekal ITB. Setidaknya kegiatan nanti kita bisa isi dengan tiga hal, yaitu kaderisasi melalui duta wakaf, literasi wakaf melalui seminar dan workshop, serta program atau campaign, misalnya untuk kealumnian, beasiswa, dan sebagainya," jelas Prof. Suwarno.
Melalui sinergi ini, instrumen wakaf diharapkan bertransformasi lebih jauh dari sekadar filantropi konvensional menjadi sumber pendanaan produktif yang berkelanjutan. Berbagai program riset, beasiswa mahasiswa, hingga pengabdian kepada masyarakat kini memiliki jaminan sokongan finansial yang lebih kuat dan mandiri.