Menyusuri dataran tinggi Kecamatan Kertasari di Kabupaten Bandung, terbentang sebuah telaga asri bernama Situ Cisanti yang bersandar anggun di kaki Gunung Wayang. Berdasarkan pengamatan awak media, danau seluas lima hektare ini tidak hanya menawarkan panorama alam yang memukau, tetapi juga memegang peran vital sebagai hulu sekaligus titik nol perjalanan panjang Sungai Citarum yang mengalir hingga Bekasi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Mengutip laporan sejarah setempat, telaga ini dulunya merupakan kawasan rawa alami sebelum akhirnya dibangun menjadi danau buatan pada awal tahun 2000-an. Juru Kunci Situ Cisanti, Atep Permana, mengungkapkan bahwa di balik wujudnya sebagai danau buatan, kawasan ini menyimpan tujuh sumber mata air utama yang telah dijaga secara turun-temurun oleh keluarganya sejak zaman dahulu.
Ketujuh sumber mata air tersebut meliputi Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cikawudukan, dan Cisanti. Menurut analisis tim redaksi, keberadaan ketujuh mata air ini tidak hanya berfungsi secara ekologis untuk menjaga kemurnian air yang bahkan layak diminum langsung, tetapi juga menjadi pusat pelestarian kearifan lokal di Jawa Barat.
Lebih dari sekadar sumber air, masyarakat setempat memaknai setiap mata air sebagai simbol filosofi hidup yang luhur. Sebagaimana dijelaskan oleh Atep, nama-nama seperti Cikahuripan melambangkan esensi kehidupan, sementara Cikoleberes mengajarkan pentingnya membereskan urusan hati dan perbuatan agar senantiasa berada dalam kebaikan.
Kawasan Situ Cisanti juga menyimpan nilai historis yang kuat karena diyakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi dan Dipatiukur. Hingga kini, tempat tersebut terus dijaga kelestariannya dan kerap ramai dikunjungi wisatawan yang ingin mencari ketenangan batin sekaligus merenungkan pesan leluhur untuk senantiasa merawat alam.