Jalan Asia Afrika di Kota Bandung bukan sekadar jalur lintasan kendaraan biasa, melainkan sebuah koridor yang merekam jejak sejarah penting perjalanan bangsa Indonesia dan dunia. Berdasarkan pengamatan awak media, kawasan ini selalu berhasil memikat para pelancong berkat perpaduan suasana tempo dulu dan lanskap perkotaan yang estetik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan catatan resmi Museum Konferensi Asia Afrika, cikal bakal nama jalan ini erat kaitannya dengan perhelatan akbar Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Presiden Soekarno secara resmi mengubah sebagian Jalan Raya Timur serta meresmikan Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka pada tanggal 7 April 1955 untuk menyambut para delegasi dunia.
Kawasan ini dikelilingi oleh berbagai bangunan arsitektur bergaya Art Deco yang sangat memukau dan berstatus sebagai cagar budaya penting. Sebut saja Gedung Merdeka yang kini menjadi lokasi museum, Hotel Savoy Homann tempat menginap para delegasi, Kantor Pos Besar Bandung, hingga Hotel Grand Preanger.
Analisis tim redaksi menunjukkan bahwa daya tarik utama kawasan ini tidak hanya terletak pada estetika bangunannya saja, tetapi juga pada nilai historis dari peristiwa The Bandung Walks. Momen tersebut mencatat bagaimana masyarakat memadati jalan untuk menyambut para pemimpin dunia yang melangkah bersama menuju Gedung Merdeka.
Perhelatan bersejarah tersebut pada akhirnya melahirkan Dasasila Bandung yang menjadi tonggak perdamaian dunia, kerja sama internasional, serta hak asasi manusia. Hingga kini, deretan bangunan ikonik di sepanjang Jalan Asia Afrika tetap berdiri kokoh sebagai warisan berharga yang memperkaya pariwisata Kota Kembang.