Penemuan jenazah salah satu anak buah kapal (ABK) KM Arupadatu 1 di Pulau Enggano, Bengkulu, membuka titik terang baru terkait pola pergerakan arus di perairan barat Indonesia. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, korban bernama Surakman ditemukan terdampar setelah terseret arus sejauh ratusan kilometer dari titik terakhir kapal terdeteksi di Pulau Sebesi, Selat Sunda.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis oseanografis, jasad korban dapat terbawa arus sejauh itu akibat pergerakan massa air yang kuat dari Selat Sunda menuju perairan lepas. Mengutip laporan dari narasumber terkait, fenomena hanyutnya benda atau tubuh manusia di laut dipengaruhi oleh dinamika alam yang kompleks.
"Laut bukanlah perairan yang diam. Benda terapung akan terus mengalami hanyutan akibat gabungan arus laut, pasang-surut, angin, dan gelombang," ujar Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, dalam keterangannya.
Ia menjelaskan bahwa Selat Sunda merupakan jalur pertukaran massa air yang krusial antara Laut Jawa dan Samudra Hindia. Pada periode monsun tenggara, aliran massa air yang keluar menuju Samudra Hindia cenderung menguat dan memicu arus residu bergerak ke arah barat daya.
Selain arus laut, faktor meteorologi seperti kecepatan angin, tinggi gelombang, serta bentuk objek dan daya apung turut memegang peranan penting dalam menentukan lintasan hanyutan. Menurut analisis awak media, keberadaan gugusan pulau di sekitar kawasan tersebut juga ikut memengaruhi arah sebaran karena mampu membentuk pusaran lokal.
Tragedi yang menimpa KM Arupadatu 1 ini bermula ketika kapal motor tersebut disewa oleh rombongan jurnalis nasional untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kehadiran data lokasi penemuan korban pertama ini kini menjadi acuan krusial bagi tim SAR untuk memetakan koridor pencarian sisa korban lainnya secara akurat.