Presiden Donald Trump secara terbuka melontarkan wacana untuk melarang ekspor bahan bakar diesel dari Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai respons atas lonjakan harga energi yang kian memberatkan sektor industri dan rantai pasok domestik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan yang dihimpun, harga rata-rata nasional untuk bahan bakar diesel di Amerika Serikat telah meroket ke rekor tertinggi sepanjang masa mencapai 6,52 dolar per galon. Angka fantastis ini mencatatkan lonjakan drastis sebesar 77 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya akibat tekanan krisis geopolitik global.
Mengutip analisis dari awak media dan pengamat ekonomi, kebijakan proteksionis semacam ini dikhawatirkan justru menjadi bumerang bagi pasar energi domestik. Patrick De Haan dari GasBuddy menyatakan bahwa harga diesel di Amerika Serikat sangat bergantung pada keseimbangan global, sehingga pembatasan eksekutif tidak serta-merta mampu menghentikan mekanisme harga internasional.
Sementara itu, ekonom Joseph Brusuelas memperingatkan bahwa larangan ekspor berpotensi menciptakan surplus domestik jangka pendek yang memaksa produsen menjual dengan harga diskon. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu penurunan produksi energi secara masif dan justru mengerek harga naik kembali di masa depan.