Bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve mengambil langkah tegas dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75% hingga 4%. Kebijakan yang diputuskan secara bulat ini menjadi kenaikan pertama sejak tahun 2023 di bawah era kepemimpinan Ketua Fed yang baru.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan dan analisis dari tim redaksi, keputusan tersebut diambil guna merespons tekanan inflasi yang dinilai masih terlalu tinggi dalam jangka waktu cukup lama. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan bahwa prioritas utama bank sentral saat ini adalah mengembalikan stabilitas harga.
"Fokus dominan kami tetap pada sisi stabilitas harga dari mandat yang diemban," ujar Kevin Warsh dalam konferensi pers sebagaimana dikutip dari laporan media internasional.
Di sisi lain, pasar keuangan menunjukkan reaksi negatif terhadap kebijakan pengetatan moneter ini. Indeks saham utama di bursa Wall Street, termasuk Dow Jones Industrial Average, dilaporkan merosot tajam usai pengumuman tersebut karena investor mengantisipasi potensi kenaikan lanjutan pada sisa tahun ini.
Sementara itu, Gedung Putih memberikan tanggapan berbeda atas kebijakan moneter tersebut. Seorang pejabat senior pemerintah menyebut keputusan bank sentral ini sebagai langkah yang disayangkan dan tidak didukung oleh argumen ekonomi yang kuat.
Kendati demikian, pihak Federal Reserve bergeming dan berkomitmen untuk tetap menjaga independensi lembaganya. Kevin Warsh meyakini bahwa langkah pengetatan ini dapat menurunkan angka inflasi tanpa harus merusak pasar tenaga kerja yang saat ini berada dalam kondisi sehat.