Saham raksasa perbankan Wall Street, Goldman Sachs, mengalami tekanan jual yang cukup masif pada perdagangan pagi waktu setempat. Kondisi ini membuat sebagian besar keuntungan yang telah dikumpulkan sepanjang tahun 2026 hampir tak tersisa menjelang pengumuman laporan keuangan kuartal ketiga.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, tren pelemahan ini telah terjadi dalam sepuluh dari dua belas pekan terakhir. Secara keseluruhan, saham bank investasi terkemuka tersebut anjlok lebih dari 20 persen jika dibandingkan dengan level puncaknya yang tercatat pada bulan Juli lalu.
Menurut analisis awak media, pembalikan arah sentimen investor ini dipicu oleh lonjakan tajam pada imbal hasil obligasi pemerintah. Kenaikan tersebut secara langsung mendongkrak biaya pinjaman, yang berpotensi memperlambat laju kesepakatan korporasi serta mendinginkan permintaan pembiayaan global.
Kendati demikian, performa gemilang pada paruh pertama tahun ini sempat mencatatkan pencapaian luar biasa berkat aktivitas pasar yang sangat tinggi. Lonjakan aktivitas merger dan akuisisi sebelumnya bahkan sempat melampaui proyeksi penuh tahunan Kota New York.
Dalam sebuah kesempatan, CEO Goldman Sachs David Solomon mengungkapkan bahwa lini perdagangan pendapatan tetap, mata uang, dan komoditas menunjukkan kinerja yang sedikit melunak secara relatif. "Operasional kami menghadapi tantangan likuiditas dan pasar yang bergerak dinamis," ujarnya.
Selain tekanan internal pasar, saham-saham perbankan di Amerika Serikat secara luas turut mengalami koreksi dalam beberapa pekan terakhir. Para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis laporan keuangan triwulanan dari sejumlah bank besar untuk menilai arah kebijakan suku bunga ke depan.