Pasar keuangan Amerika Serikat merespons secara mengejutkan setelah Departemen Tenaga Kerja merilis data ketenagakerjaan bulanan yang menunjukkan lesunya pasar tenaga kerja. Sepanjang September, ekonomi AS hanya mampu mencatat penambahan dua puluh sembilan ribu pekerjaan saja. Angka ini jauh di bawah ekspektasi para ekonom yang sebelumnya memproyeksikan penambahan sekitar sembilan puluh ribu posisi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan awak media, tingkat pengangguran juga dilaporkan mengalami kenaikan tipis dari empat koma satu persen menjadi empat koma dua persen pada bulan sebelumnya. Perlambatan masif ini langsung memicu berbagai analisis dari kalangan ekonom senior terkait arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau The Fed pada pertemuan mendatang.
Menurut ekonom terkemuka Mohamed El-Erian, kondisi permintaan tenaga kerja saat ini menunjukkan sinyal peringatan yang cukup kuat. Permintaan tenaga kerja yang melemah secara menyeluruh ini diyakini akan membuat The Fed mengambil sikap waspada dan menahan suku bunga pada bulan Oktober.
Meskipun demikian, El-Erian menilai sisi pasokan tenaga kerja memberikan kabar yang cukup menggembirakan. Peningkatan partisipasi angkatan kerja naik secara mengejutkan dari enam puluh satu koma enam persen menjadi enam puluh satu koma delapan persen, yang memberikan angin segar di tengah lesunya perekonomian.
Dampak dari laporan tenaga kerja yang lemah ini justru langsung disambut positif oleh para pelaku pasar di bursa saham Wall Street. Indeks utama seperti Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite terpantau kompak mencatatkan lonjakan signifikan sesaat setelah pasar dibuka.
Mengutip laporan dari lantai bursa, para trader langsung mengurangi taruhan mereka terkait potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed. Imbal hasil atau yield US Treasury tenor sepuluh tahun turut mengalami penurunan seiring meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneternya.
Dari analisis tim redaksi, perlambatan penciptaan lapangan kerja ini juga membawa implikasi politik yang cukup berat bagi pemerintahan Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu. Isu ekonomi yang belum sepenuhnya stabil berpotensi menjadi tantangan besar bagi petahana dalam meyakinkan para pemilih.