Di bawah naungan selasar Sentra Phalamartha di Kebon Randu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, selembar kain mori putih terbentang rapi di atas kerangka pipa persegi. Suasana pagi itu tampak hangat diisi oleh aktivitas para penerima manfaat penyandang disabilitas mental yang tengah merajut kembali rasa percaya diri melalui selembar kain batik dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Sebelum warna-warni semarak menghiasi kain, lelehan lilin malam terlebih dahulu dicapkan membentuk pola unik seperti kelopak bunga, daun maple, ornamen lengkung, hingga fauna. Dari batas lilin tersebut, warga binaan dengan penuh fokus menyapukan kuas berisi warna merah muda, kuning cerah, hijau, dan cokelat ke permukaan mori.
Tawa riang anak-anak murid Raudhatul Athfal (RA) Luqmanul Hakim Cibadak turut memecah keheningan saat mereka ikut mencelupkan kuas ke dalam gelas plastik dan mengibaskannya ke udara bebas. Percikan cairan warna-warni mendarat di atas serat kain putih tanpa aturan baku, melahirkan keindahan visual abstrak yang kemudian dikenal sebagai Batik Ciprat.
Instruktur Batik Sentra Phalamartha, Edeh Rukoyah, menjelaskan bahwa batik ciprat bukan sekadar kain bermotif, melainkan sarana terapi dan jalan kemandirian bagi warga binaan ODGJ. Menurut Edeh, proses pendampingan yang intensif setiap hari justru melahirkan gradasi baru yang membuat hasil karya semakin estetik dan unik.
Berdasarkan analisis awak media, ketelatenan dan kebijakan Kementerian Sosial yang mewajibkan pegawai mengenakan pakaian batik ciprat setiap hari Selasa terbukti menjadi motor penggerak utama kesuksesan pemasaran produk ini. Lebih dari seribu helai kain batik telah diproduksi dan dipasarkan ke berbagai penjuru tanah air mulai dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan Nusa Tenggara Timur.
Kehangatan kolaborasi ini turut diapresiasi oleh Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PC IGRA) Cibadak, Lia Muhafilah, S.Pd.I., yang melihat kunjungan edukasi ini memberikan pelajaran hidup berharga tentang kesabaran dan keindahan bagi anak-anak. Pihaknya bahkan berencana memperluas kolaborasi dengan mengajak lembaga-lembaga RA lain di Kecamatan Cibadak untuk belajar langsung ke sentra.
Kepala Sentra Phalamartha Kemensos Sukabumi, Febrialdi, menegaskan bahwa ruang belajar vokasional batik ciprat ini terbuka seluas-luasnya untuk masyarakat umum secara gratis. Sebagaimana dilaporkan, pola pelatihan yang fleksibel baik melalui kunjungan langsung maupun sistem jemput bola diharapkan dapat terus memberikan dampak nyata bagi pemberdayaan warga binaan.