Kematian tragis seorang lanjut usia bernama Petrus Pallangan atau yang lebih dikenal sebagai Profesor Doktor Ronald P Pallangan di Kabupaten Sukabumi menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi publik. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, almarhum ternyata bukanlah orang sembarangan melainkan seorang akademisi papan atas dengan rekam jejak riset sains terapan yang sangat mentereng di kancah nasional maupun internasional.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut keterangan sang putri, Devi Aprilianti, semasa hidupnya almarhum mendedikasikan seluruh waktunya untuk dunia pendidikan tinggi dan riset teknologi. Bahkan, Profesor Ronald tercatat pernah aktif mengajar hingga ke mancanegara serta mengantongi berbagai penghargaan bergengsi dari negara-negara besar seperti Rusia dan Jerman.
Sebagaimana dilaporkan dari berbagai sumber terpercaya, salah satu mahakarya ilmiah paling monumental dari almarhum adalah riset sistem pertanahan pengaman petir atau grounding system. Inovasi canggih tersebut terbukti mampu menekan nilai resistansi pembumian hingga menyentuh titik ekstrem 0,01 ohm dan bahkan 0 ohm, yang sempat diaplikasikan secara luas oleh instansi strategis seperti TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, hingga kawasan perumahan elit Sentul.
Mengutip laporan keluarga, kecemerlangan berpikir almarhum juga melahirkan teknologi pelacak air tanah bernama AWUG Detector atau Analysis Water Under Ground Detector. Alat inovatif berbasis frekuensi gelombang alam ini dirancang untuk mendeteksi sumber mata air bersih tanpa harus merusak kontur lingkungan sekitar, yang diakui memiliki tingkat akurasi ilmiah sangat tinggi oleh para kolega dan anak didiknya.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, sisi lain kehidupan almarhum juga diwarnai oleh jejak karier di dunia jurnalistik pada masa mudanya. Profesor Ronald pernah mendedikasikan dirinya sebagai seorang wartawan profesional di harian nasional Kompas, sebuah bukti nyata bahwa almarhum memiliki wawasan yang sangat luas, ketajaman berpikir kritis, serta kecintaan mendalam pada literasi.
Namun demikian, di balik segudang prestasi gemilang tersebut, kondisi fisik sang profesor dilaporkan menurun drastis dalam dua tahun terakhir akibat mengalami kelumpuhan pascaoperasi setelah sempat terjatuh. Keterbatasan gerak fisik ini pada akhirnya harus berakhir tragis ketika almarhum ditemukan tak bernyawa di kamar tidurnya di Kampung Bakti, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, meninggalkan kenangan mendalam bagi keluarga yang kehilangan sosok figur ilmuwan tegas namun penyayang.