Pemerintah China secara resmi mengumumkan kebijakan pemangkasan tarif impor untuk berbagai produk pertanian asal Amerika Serikat, mulai dari jagung, gandum, hingga produk daging dan olahan susu. Berdasarkan pengamatan dan analisis tim redaksi, langkah strategis ini diambil menyusul pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Washington.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kendati demikian, di tengah pelonggaran tarif yang mencakup sorghum, minyak nabati, serta produk olahan daging tersebut, komoditas unggulan kedelai AS justru tercatat sengaja dikecualikan dari daftar keringanan. Mengutip laporan resmi dari Kementerian Perdagangan China, kedelai impor masih dikenakan tarif tambahan sebesar 10 persen yang dinilai memberatkan para pelaku usaha swasta.
Berdasarkan kalkulasi awak media, total nilai perdagangan dari produk-produk yang masuk dalam daftar pemangkasan tarif tersebut mencapai sekitar 17 miliar dolar AS pada tahun 2024. Angka ini dinilai selaras dengan komitmen pembelian tahunan yang disepakati oleh kedua negara raksasa ekonomi dunia demi menjaga stabilitas pasar global.
Di sisi lain, perusahaan pangan milik negara China seperti Sinograin dan COFCO dilaporkan telah mengamankan pembelian lebih dari 12 juta metrik ton kedelai AS. Jumlah tersebut merepresentasikan hampir separuh dari target komitmen tahunan sebesar 25 juta metrik ton yang dicanangkan oleh Gedung Putih hingga tahun 2028 mendatang.
Sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan dagang, kedua negara juga sepakat membentuk sebuah dewan perdagangan khusus untuk membahas resiprokitas pemangkasan tarif senilai 30 miliar dolar AS. "Kami berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara melalui dialog konstruktif," ujar perwakilan otoritas perdagangan dalam laporan tersebut.