Pencarian terhadap misteri keberadaan Bahtera Nuh kembali mencuri perhatian publik global setelah tim peneliti internasional memulai langkah eksplorasi baru di kawasan pegunungan Turki. Berdasarkan laporan dari awak media, ekspedisi tersebut memfokuskan penyelidikan pada formasi geologi unik yang dikenal sebagai situs Durupinar, terletak di dekat kawasan Gunung Ararat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Direktur Pemasaran dan Penggalangan Dana Proyek Noah's Ark Scans, Lauren Witzke menyatakan bahwa misi pencarian ini telah mengantongi izin resmi dari pemerintah setempat serta berada di bawah pengawasan ketat akademisi. Menurut Witzke, "Setelah kita selesai, kurikulum universitas perlu ditulis ulang, dan Darwinisme akan dibongkar," sebagaimana dikutip dari pemberitaan luar negeri.
Dari analisis tim redaksi, situs Durupinar sendiri telah lama menjadi perdebatan sengit di kalangan ilmuwan sejak pertama kali ditemukan lewat foto udara pada tahun 1959. Sebagian geolog modern meyakini bahwa bentuk menyerupai perahu tersebut murni merupakan formasi alami berupa punggung bukit batu kapur dan tanah liat vulkanik yang terbentuk akibat proses erosi.
Kendati demikian, sejumlah peneliti terdahulu meyakini adanya artefak sejarah di lokasi tersebut berdasarkan pengukuran panjang struktur yang mendekati catatan kitab kuno. Penyelidikan modern kini dipercanggih dengan penggunaan teknologi radar penembus tanah serta pengerahan robot khusus bawah tanah bernama Gopher yang dirancang oleh Dr Robert Ross untuk menjangkau ruang sempit.
Sebagaimana dilaporkan oleh tim ekspedisi, robot canggih tersebut dibekali kemampuan untuk merekam visual beresolusi tinggi sekaligus mengambil sampel material di bawah permukaan tanah. Di sisi lain, proyek ambisius ini harus berkejaran dengan waktu menghadapi datangnya musim dingin ekstrem yang berpotensi membekukan area penggalian.