Oracle Corporation kembali mencuri perhatian publik global setelah mengumumkan kinerja keuangan kuartal pertama fiskal yang berhasil melampaui ekspektasi Wall Street. Lonjakan permintaan layanan kecerdasan buatan atau AI secara masif terbukti mendongkrak pendapatan perusahaan secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan yang dirilis pada September 2026, total backlog kontrak cloud AI Oracle kini telah menembus angka fantastis sebesar 664 miliar dolar AS. Angka tersebut jauh melampaui proyeksi para analis pasar yang sebelumnya mematok estimasi di kisaran 639 miliar dolar AS.
Menurut analisis awak media, keberhasilan ini didorong oleh tambahan kontrak baru senilai lebih dari 30 miliar dolar AS yang berhasil diamankan Oracle selama periode kuartal tersebut. Pertumbuhan ini sekaligus mempertegas posisi perusahaan sebagai salah satu pemain utama penyedia infrastruktur cloud global.
Secara rinci, pendapatan keseluruhan perusahaan melesat 30 persen secara tahunan menjadi 19,3 miliar dolar AS, sementara divisi pendapatan infrastruktur cloud melonjak hingga 121 persen. Capaian positif ini langsung direspons oleh pasar dengan kenaikan harga saham Oracle sekitar 4 persen pada perdagangan setelah jam kerja.
Kendati demikian, di balik angka-angka pertumbuhan yang mengesankan tersebut, para pengamat mencatat bahwa Oracle tetap menghadapi tantangan besar terkait beban pengeluaran modal yang tinggi. Perusahaan mencatatkan arus kas bebas negatif sebesar 5,40 miliar dolar AS akibat masifnya pembangunan pusat data dan infrastruktur pendukung.
Sebagaimana dilaporkan oleh berbagai sumber finansial, Oracle terbantu oleh uang muka dari para pelanggan yang turut meringankan tekanan pendanaan belanja modal. Manajemen perusahaan bahkan berencana menghimpun sekitar 40 miliar dolar AS melalui instrumen utang dan ekuitas demi membiayai ekspansi lanjutan pada tahun fiskal 2027.
Dari sudut pandang analisis redaksi, tantangan terbesar Oracle selanjutnya adalah kecepatan konversi tumpukan backlog yang masif tersebut menjadi pendapatan yang benar-benar menghasilkan keuntungan bersih. Mengingat sebagian besar kontrak jangka panjang sangat bergantung pada segelintir pelanggan utama seperti OpenAI, konsentrasi risiko durasi sewa pusat data menjadi faktor krusial yang harus diwaspadai investor.