Merawat pasien di fasilitas kesehatan ternyata tidak sekadar berfokus pada tindakan medis semata, melainkan juga menuntut kehadiran dukungan emosional dan spiritual yang memadai. Berangkat dari kesadaran tersebut, Lembaga Pelayan Masyarakat ID Humanity Dompet Dhuafa bersama Dompet Dhuafa Jawa Barat berinisiatif menyelenggarakan pelatihan Spiritual Power bagi para tenaga kesehatan se-Bandung Raya di Kota Bandung.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, langkah kolaboratif ini dirancang khusus untuk membekali para tenaga medis dengan keterampilan dasar pendampingan spiritual pasien yang selaras dengan tuntunan ajaran Islam. Pendekatan komprehensif ini dinilai sangat krusial agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat mencakup seluruh aspek secara menyeluruh, mulai dari fisik, psikologis, sosial, hingga spiritual.
Direktur Program Sosial, Kemanusiaan, dan Dakwah ID Humanity Dompet Dhuafa, Ahmad Sonhaji, menegaskan bahwa tenaga kesehatan memiliki posisi strategis dalam mewujudkan pelayanan holistik di rumah sakit. Melalui pembekalan intensif ini, pihaknya berharap pendekatan bio-psiko-sosio-spiritual dapat diintegrasikan secara nyata ke dalam aktivitas pelayanan harian para tenaga medis di lapangan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala LPM ID Humanity Dompet Dhuafa, Kamaludin, menjelaskan bahwa program ini bertujuan agar para tenaga kesehatan mampu menjaga motivasi pasien agar tetap semangat beribadah serta optimis menjalani proses pemulihan meskipun tengah berada dalam kondisi sakit berat. Di samping agenda pelatihan bagi nakes tersebut, pihak penyelenggara juga menyempatkan diri memberikan dukungan serta hiburan bagi para penyintas jantung.
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Barat, Yogi Achmad Fajar, turut menyampaikan optimismenya agar kegiatan positif ini dapat menjadi jembatan bagi terjalinnya kolaborasi yang berkelanjutan di masa mendatang. Menurutnya, ilmu yang diperoleh para peserta diharapkan mampu memberikan manfaat besar di tempat kerja masing-masing sekaligus menjawab kebutuhan spiritual pasien secara optimal.
Adapun materi yang disampaikan dalam sesi pelatihan tersebut meliputi Fiqh Maridh atau fikih orang sakit, teknik pendampingan sakaratul maut, penguatan kesehatan mental secara holistik, hingga tata cara pemulasaran jenazah yang benar. Kehadiran program ini diposisikan bukan untuk menggantikan peran rohaniwan rumah sakit, melainkan sebagai bentuk penguatan agar tenaga kesehatan semakin peka merespons kebutuhan rohani pasien.
Apresiasi tinggi turut datang dari Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda sekaligus Ketua Tim Kerja P2PTM Dinas Kesehatan Jawa Barat, Aan Sri Andriyanti, yang menyambut baik terselenggaranya inisiatif mulia ini. Respons positif serupa juga disampaikan oleh Rizki Manulin, seorang tenaga kesehatan sekaligus dosen STIKes Cimahi, yang merasa wawasan serta kepekaannya terhadap aspek spiritual dan penanganan pasien kini semakin meningkat.