Kunjungan kerja penting dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, A. Muhaimin Iskandar, bersama Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Humaira Zahrotun Noor, ke kawasan Pesan-Trend atau Sekolah Rimba Indonesia di Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Peninjauan yang berlangsung pada Selasa ini bertujuan untuk melihat langsung konsep pendidikan alternatif yang memadukan ilmu keagamaan dengan kemandirian ekonomi masyarakat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam pemantauannya, sosok yang akrab disapa Cak Imin tersebut menegaskan bahwa institusi pendidikan pesantren kini harus bertransformasi lebih luas. Pesantren dinilai wajib menjadi wadah pembentukan kepribadian, pengasahan keahlian, penumbuhan kreativitas, serta penajaman daya cipta santri dalam menangkap peluang usaha di tengah masyarakat modern.
Hal senada disampaikan oleh Humaira Zahrotun Noor yang memberikan apresiasi tinggi terhadap formula pembelajaran di Pesan-Trend. Menurut analisis tim redaksi, kolaborasi antara pendidikan formal, kecakapan hidup, dan kepedulian lingkungan yang diterapkan di tempat ini mampu menjadi cetak biru baru dalam melahirkan generasi muda yang tangguh.
"Pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan agama, tetapi juga memiliki keterampilan, kreativitas, serta kemampuan mengembangkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya," ujar Humaira dalam keterangannya.
Sistem edukasi yang diterapkan di Pesan-Trend memang tergolong unik karena menyatukan kurikulum nasional, pendalaman Al-Qur'an, konsep permakultur, hingga keahlian praktis. Para santri langsung diterjunkan ke ranah produktif seperti budidaya tanaman, peternakan, pengelolaan sampah, hilirisasi kopi, hingga pengembangan wisata edukasi.
Salah satu daya tarik utama dari kawasan ini adalah pengelolaan komoditas kopi jenis Arabika seluas belasan hektare yang dikerjasamakan dengan Kelompok Tani Putra Manglayang. Tercatat, volume panen biji kopi di area tersebut mampu menembus angka hingga 50 ton, menunjukkan potensi ekonomi kerakyatan yang sangat menjanjikan.
Selain sektor perkebunan kopi, berbagai program ramah lingkungan seperti budidaya maggot dan konversi sampah organik menjadi kompos turut diintegrasikan ke dalam kurikulum harian. Melalui pendekatan lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan komunitas, inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat fondasi kemandirian warga secara berkelanjutan.