Keheningan di kawasan Situ Habibie, Kampung Pasirkawung, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, kini senantiasa diselimuti rasa waswas yang mendalam. Danau yang dahulu menjadi gantungan hidup warga untuk mencari nafkah dan memberi minum ternak, perlahan bertransformasi menjadi wilayah perburuan berbahaya bagi kawanan buaya muara. Berdasarkan analisis tim redaksi, fenomena pergeseran habitat ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan ekosistem yang menuntut perhatian serius dari instansi berwenang demi keselamatan masyarakat sekitar.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kepanikan publik kembali pecah ketika seekor anak sapi berwarna cokelat hendak melepas dahaga di tengah teriknya musim kemarau. Dari balik kedalaman air yang keruh, seekor buaya muara sepanjang lebih dari dua meter mendadak melompat dan mengunci tubuh anak sapi tersebut tanpa peringatan. Suasana di lokasi seketika berubah mencekam saat warga berhamburan sambil berteriak dan mengayunkan galah panjang demi merebut kembali hewan ternak malang itu dari cengkeraman sang predator ganas.
Kepala Desa Cipeundeuy, Bakang Anwar As'adi, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut menambah daftar panjang catatan kelam konflik antara manusia dan satwa liar di wilayahnya. "Anak sapi itu mau minum karena kemarau. Tanpa sepengetahuan pemiliknya, langsung dihantam buaya. Alhamdulillah tidak sampai mati, tapi paha dan kaki belakangnya robek akibat gigitan," ungkapnya saat dikonfirmasi oleh awak media.
Ancaman nyata predator di Situ Habibie ini ternyata bukan sekadar rumor belaka yang beredar di tengah masyarakat. Berdasarkan data dari pemerintah desa, dalam kurun waktu satu tahun terakhir tercatat sudah ada satu ekor sapi dan sembilan ekor domba milik warga yang hilang secara misterius akibat dimangsa buaya. Situasi ini tentu memberikan dampak ekonomi yang cukup berat bagi para petani dan peternak lokal yang menggantungkan hidupnya pada hasil ternak.
Lebih mengerikan lagi, ganasnya rahang buaya di danau tersebut tak cuma mengincar hewan peliharaan saja. Dua orang pencari ikan lokal bernama Farel dan Baban sempat menjadi saksi hidup betapa tipisnya jarak antara nyawa dan kematian saat tubuh mereka mendadak disergap dari dalam air. Berkat perjuangan keras untuk membela diri, keduanya berhasil selamat dari maut meski sempat mengalami luka gigitan yang cukup serius.
Pemerintah Desa Cipeundeuy mengaku telah berulang kali melayangkan surat serta berkoordinasi secara intensif dengan berbagai pihak terkait. Namun, respons yang didapat kerap kali terbentur oleh ketidakjelasan wewenang antarinstansi di tingkat daerah. "Saya sudah berkoordinasi dengan semua pihak. Dulu dari BKSDA cuma dipasang papan imbauan saja, padahal kami di desa sudah berbuat lebih dari sekadar mengimbau warga," cetus Bakang dengan nada kecewa.
Bakang secara tegas menyampaikan kekhawatirannya bahwa lambatnya penanganan di lapangan bisa menyulut emosi warga hingga memicu aksi pembantaian buaya secara mandiri. Mengingat status buaya sebagai hewan yang dilindungi undang-undang, pihak desa berupaya keras mencegah tindakan hukum yang dapat menjerat warga setempat. Oleh karena itu, warga dan aparat desa mendesak BBKSDA serta Pemkab Sukabumi untuk segera mengambil tindakan evakuasi nyata sebelum ada korban jiwa melayang.
Dari analisis pengamatan media, lambannya birokrasi penanganan satwa liar kerap menjadi celah bahaya yang mengancam keselamatan warga di daerah. Kasus di Situ Habibie ini membuktikan bahwa koordinasi lintas instansi harus dipercepat agar penanganan konflik satwa dapat dilakukan secara terpadu. Jangan sampai langkah evakuasi baru digalakkan setelah bencana kemanusiaan benar-benar terjadi di tepi danau yang kini penuh ketakutan.