Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, akhirnya angkat bicara untuk menjawab kritik warganet yang membandingkan momen dirinya menangis di Puncak, Kabupaten Bogor, dengan sikap tegasnya terhadap proyek pembangunan Data Center AI milik BDx di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, polemik ini mencuat setelah netizen mempertanyakan konsistensi arah kebijakan lingkungan yang diambil oleh orang nomor satu di Jawa Barat tersebut pada dua lokasi yang berbeda isu pembangunannya.
Menanggapi hal tersebut, Dedi menjelaskan bahwa air matanya di Puncak tumpah karena rasa prihatin mendalam melihat kawasan hutan lindung yang dialihfungsikan menjadi sarana rekreasi komersial berisiko tinggi. "Saya waktu itu sedih karena lihat ada jembatan gantung yang masuk ke atas pohon," ungkap Dedi saat ditemui di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jumat (2/10/2026).
Lebih lanjut, dari analisis awak media, penertiban yang dilakukan pemerintah di kawasan Puncak tersebut murni berfokus pada pelanggaran fungsi ekologis ruang hijau. Sebagai langkah konkret, Pemprov Jabar langsung menindak obyek wisata Hibisc Fantasy yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah setempat karena dinilai tidak sesuai aturan.
Sementara itu, terkait proyek investasi Data Center AI di Purwakarta, Dedi menegaskan pihaknya mengambil langkah penutupan sementara semata-mata karena persoalan administrasi perizinan yang belum tuntas. "AMDAL-nya sudah keluar belum? belum. Ya saya bilang jangan dulu dilaksanakan," tegas Dedi guna meluruskan kesalahpahaman publik.