Menghabiskan waktu libur akhir pekan di Kota Bandung kini semakin kaya pilihan, salah satunya dengan mengunjungi Museum Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berlokasi di lantai empat Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Tamansari. Destinasi anyar ini menawarkan pengalaman rekreasi yang memadukan unsur edukasi sains, teknologi, serta rekam jejak historis perguruan tinggi teknik terkemuka di Indonesia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pengamatan awak media saat berkunjung ke lokasi, museum ini dirancang secara modern dengan membagi area pameran ke dalam empat zona tematik utama. Koordinator Museum ITB, Usep Mulyana, menjelaskan bahwa pembagian zona tersebut meliputi akar sejarah institusi, pencerahan riset dan pendidikan, dinamika kehidupan kampus dari masa ke masa, hingga galeri inspirasi masa depan.
Perjalanan panjang museum ini sendiri melalui proses yang cukup panjang sejak pertama kali dicetuskan pada tahun 2018 sebelum akhirnya resmi dibuka untuk umum pada pertengahan tahun 2026. Sebagaimana dilaporkan, sempat terjadi penundaan akibat pandemi COVID-19, namun berkat komitmen kuat pihak kampus di bawah kepemimpinan Rektor Prof Tatacipta Dirgantara, gagasan tersebut berhasil direalisasikan.
Memasuki zona pertama, pengunjung disambut dengan lini masa perkembangan pendidikan tinggi teknik di Hindia Belanda sejak tahun 1910 hingga bertransformasi menjadi ITB saat ini. Berbagai koleksi arsip berharga, dokumen restorasi piagam lama, hingga potret lawas pembangunan kampus turut dipamerkan untuk memperkaya wawasan pengunjung.
Bergeser ke zona berikutnya, pengunjung disuguhkan pencapaian riset monumental berupa visualisasi sejarah gajah purba serta replika gading stegodon hasil temuan tim peneliti Teknik Geologi ITB di perbatasan Sumedang dan Majalengka. Selain itu, terdapat pula deretan barang antik peninggalan masa lalu mulai dari alat peraga praktikum, mesin uap, hingga komputer jadul yang dilengkapi layar interaktif.
Fasilitas layar interaktif terbukti menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pengunjung anak-anak yang dapat berinteraksi langsung dengan simulasi ekosistem hutan secara digital. Tidak ketinggalan, terdapat pula inovasi teknologi tepat guna karya civitas akademika ITB seperti instalasi penjernih air darurat dan kaki palsu fungsional.
Menutup rangkaian tur edukasi, pengunjung diajukan untuk naik ke area rooftop Gedung Sabuga guna melihat langsung badan Pesawat Gelatik yang pernah digunakan dalam berbagai riset penerbangan masa lampau. Dengan harga tiket masuk yang relatif terjangkau, Museum ITB kini menjelma sebagai alternatif destinasi wisata keluarga yang sarat inspirasi di Kota Kembang.