Analis politik Boni Hargens menilai sinergi yang terjalin antara Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Polri dan para ulama memiliki peranan krusial untuk memperkuat persatuan serta kesatuan bangsa Indonesia. Menurut pengamatan awak media, kolaborasi strategis antara umara dan ulama ini menjadi penopang stabilitas nasional di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pernyataan tersebut mengemuka menyusul gelaran kegiatan bertajuk Ngaji Kebangsaan yang dihadiri langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bersama ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha. Acara yang mempertemukan ratusan personel kepolisian dan ribuan santri tersebut dilangsungkan di Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang, Jawa Tengah.
Boni memandang bahwa kehadiran tokoh agama sebagai panutan moral mampu melengkapi tugas aparat keamanan dalam merawat ketertiban umum. Berdasarkan analisis tim redaksi, seruan moral yang digaungkan para pemimpin institusi penegak hukum dan pemuka agama berfungsi sebagai pengingat agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi perpecahan.
Dalam keterangannya, Boni menjelaskan bahwa kondisi dunia saat ini tengah menghadapi tantangan berat akibat berbagai konflik global yang berdampak pada rantai pasok internasional. Di dalam negeri sendiri, berbagai kepentingan kelompok sedang berkontestasi secara terbuka sehingga seruan moral dari pimpinan Polri menjadi momentum penting menyadarkan publik.
Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia itu juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap keutuhan bangsa tidak hanya bersumber dari arena politik konvensional atau ekonomi semata, melainkan juga sangat masif di ruang digital. Berdasarkan pengamatan mendalam, polarisasi opini serta penyebaran disinformasi di internet berisiko tinggi memicu fragmentasi sosial yang merusak kerukunan warga.
Guna membentengi masyarakat dari dampak buruk polarisasi digital, Boni menegaskan bahwa peran aktif ulama sangat dibutuhkan untuk membimbing umat agar menyikapi segala bentuk perbedaan secara bijak dan damai. Penguatan nilai-nilai keagamaan yang moderat diyakini mampu meredam ketegangan di tengah masyarakat plural.
Selain itu, Boni turut menyoroti pentingnya penanaman kesalehan sosial sebagai fondasi utama dalam kehidupan bernegara. Menurut pandangannya, kesalehan sosial tidak boleh hanya dimaknai sebatas ritual ibadah personal, melainkan harus diwujudkan nyata melalui sikap kemanusiaan, penegakan keadilan, solidaritas, serta kepedulian terhadap sesama.
Penguatan nilai kemanusiaan tersebut dinilai mampu membangun daya tahan psikologis dan sosial yang lebih tangguh di tengah masyarakat. Dengan demikian, warga negara tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu provokatif dan senantiasa mengedepankan jalur dialog damai dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Mengakhiri pandangannya, Boni menegaskan bahwa sinergi erat antara Polri dan ulama yang tecermin lewat kegiatan keagamaan di Rembang harus terus dirawat dan ditingkatkan secara berkesinambungan. Sebagaimana dilaporkan, persatuan dan kesatuan bukanlah sekadar slogan semata, melainkan sebuah komitmen harian yang wajib diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa.