Tren para pemilik kedai kopi kini mulai bergeser mendalam ke area hulu dan tengah, di mana proses pengolahan pascapanen menjadi kunci utama kualitas rasa. Bukan sekadar menyajikan secangkir minuman ke meja pelanggan, para pelaku industri kopi kini berlomba-lomba membangun cerita autentik di balik setiap biji kopi yang mereka seduh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Salah satu varietas yang kini menjadi incaran para peracik kopi adalah Liberika, komoditas langka yang hanya mencakup sekitar dua persen dari populasi kopi dunia. Kopi ini memiliki karakteristik unik berupa aroma nangka yang sangat kuat, meskipun pengolahan yang kurang tepat justru bisa memunculkan bau menyengat yang menyerupai salak busuk.
Berdasarkan catatan sejarah, tanaman kopi Liberika awalnya didatangkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Nusantara pada dekade 1870-an sebagai alternatif pengganti varietas Arabika yang hancur akibat serangan wabah penyakit karat daun. Meskipun sempat dianggap kurang tahan terhadap penyakit serupa, sisa-sisa tanaman Liberika masih dapat ditemukan dan diolah hingga hari ini.
Proses pengolahan tradisional kopi Liberika dimulai dari pemilihan ceri kopi merah masak yang direndam dalam air untuk memisahkan biji berkualitas bagus dari biji yang kosong atau mengapung. Setelah melalui tahap penjemuran cangkang selama lebih dari 14 hari dengan teknik perlambatan kering, biji kopi kemudian ditumbuk menggunakan alu dan lumpang tradisional untuk mengelupas kulit kerasnya.
Tahap akhir sebelum penyeduhan melibatkan proses sortasi manual yang teliti untuk menyingkirkan biji cacat, dilanjutkan dengan penyangraian menggunakan mesin modern atau wajan kastrol secara konvensional. Setelah melalui masa istirahat beberapa hari, bubuk kopi Liberika siap diseduh dan memancarkan keharuman khas buah nangka yang memikat saat tersiram air panas.