Pasar keuangan global dinilai masih memandang sebelah mata ancaman kiamat kecerdasan buatan atau artificial intelligence terhadap stabilitas ekonomi. Sebagaimana dilaporkan dari pengamatan pasar, para investor terlampau percaya diri dengan eksposur perdagangan teknologi canggih ini tanpa menyadari kerentanan tersembunyi di balik lonjakan valuasi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis dari Kepala Strategi Derivatif RBC Capital Markets, Amy Wu Silverman, situasi saat ini mencerminkan ilusi kekuatan tanpa batas yang sangat rapuh. Ia mengibaratkan kondisi pasar mirip perangkat pelindung lonjakan arus listrik yang dicolokkan ke dirinya sendiri, sebuah metafora untuk menggambarkan risiko sistemik yang berputar dalam lingkaran tertutup.
Mengutip penjelasan Silverman, intervensi artificial intelligence yang merambah ke berbagai lini industri telah mengaburkan sinyal tradisional pergerakan bursa saham. Indeks korelasi implisit tiga bulan CBOE sempat menyentuh level terendahnya tahun ini, yang lazimnya dibaca sebagai sinyal positif untuk diversifikasi dan perlindungan portofolio dari penurunan risiko.
Kendati demikian, awak media mencatat bahwa metrik korelasi rendah tersebut terbukti menyesatkan di tengah masifnya pembangunan infrastruktur komputasi. Ketergantungan belanja modal dari sektor energi hingga utilitas terhadap teknologi canggih membuat seluruh instrumen bursa sebenarnya bergerak dalam satu poros perdagangan yang sama.
Lebih lanjut, Silverman menegaskan bahwa probabilitas terjadinya skenario terburuk atau doomsday scenario jauh melampaui estimasi pasar yang saat ini hanya memperhitungkan risiko sekitar nol koma lima persen. Tekanan dari siklus pembiayaan melingkar serta guncangan eksternal berpotensi memicu efek limpasan beruntun yang menghantam portofolio investor secara masif.