Daftar 7 fakta menarik film G30S PKI selalu menjadi topik yang hangat diperbincangkan setiap akhir bulan September. Film garapan sutradara Arifin C. Noer ini tidak hanya dikenal karena durasinya yang mencapai lebih dari empat jam, tetapi juga karena jejak sejarah dan berbagai polemik yang menyertainya sejak pertama kali dirilis pada tahun 1984.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media, produksi film ini memakan waktu hingga dua tahun dengan dukungan anggaran yang luar biasa besar pada masanya, yakni mencapai sekitar Rp800 juta. Dengan biaya sebesar itu dan diproduksi langsung oleh Perum Produksi Film Negara, film ini menjelma menjadi megaproduksi sinema sejarah yang mendominasi perhatian publik Indonesia pada dekade 1980-an.
Sukses secara komersial, film ini mencatatkan rekor fantastis di kancah perfilman nasional. Mengutip laporan PT Perfin, film tersebut berhasil meraup hingga 699.282 penonton di wilayah DKI Jakarta saja hingga Desember 1984, sekaligus melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh film terlaris lain seperti Nyi Blorong.
Memasuki masa penayangannya di layar kaca, film ini menjadi tontonan wajib tahunan bagi masyarakat Indonesia melalui stasiun televisi TVRI sejak 1985. Kebijakan pemutaran rutin setiap tanggal 30 September ini berlangsung selama kurang lebih 13 tahun sebelum akhirnya dihentikan total pada era Reformasi tahun 1998.
Penghentian penayangan wajib tersebut diumumkan oleh Menteri Penerangan saat itu, Letjen TNI (Purn) Muhammad Yunus Yosfiah, dalam rapat bersama Komisi I DPR. Dalam keterangannya, "Film-film bernuansa pengultusan tokoh seperti Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI tidak lagi sesuai dengan dinamika Reformasi," demikian pernyataan pemerintah kala itu.
Di balik popularitasnya, film ini juga menyimpan sejumlah catatan kontroversial terkait akurasi sejarah dan medis. Sejumlah sejarawan menyoroti adegan penyiksaan di Lubang Buaya yang dinilai berbeda dari hasil visum medis resmi, di mana sebagian besar korban jenderal dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak, bukan karena penyadisan ekstrem seperti yang divisualisasikan dalam adegan film.
Kejanggalan visual lain yang sering dibahas oleh para pengamat adalah fenomena anakronisme berupa kemunculan peta Indonesia yang telah memasukkan wilayah Timor Timur di ruang kerja Kostrad. Padahal, latar waktu dalam adegan tersebut adalah tahun 1965, sementara integrasi Timor Timur baru resmi terjadi pada tahun 1976.
Terlepas dari berbagai perdebatan sejarah yang mengitarinya, film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI tetap diakui kualitas sinematografinya melalui ajang Festival Film Indonesia 1984. Arifin C. Noer sukses membawa pulang Piala Citra untuk kategori Skenario Terbaik, sementara film ini juga menyabet penghargaan Piala Antemas sebagai film unggulan terlaris.