Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI garapan sutradara Arifin C. Noer yang dirilis pada tahun 1984 silam tetap menjadi salah satu tontonan sejarah paling ikonik dan kontroversial di Indonesia. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, film berdurasi panjang lebih dari empat jam ini tidak hanya merekam narasi politik masa lalu, tetapi juga melahirkan jajaran karakter kuat yang diperankan oleh aktor-aktor hebat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Budayawan sekaligus akademisi senior Umar Kayam dipercaya untuk menghidupkan karakter Presiden Soekarno dalam situasi politik Indonesia yang genting pada tahun 1965. Menurut laporan sejarah perfilman, Umar Kayam melakukan pendekatan unik dengan menggali informasi langsung dari para saksi mata di Istana Bogor karena minimnya waktu riset mendalam.
Peranan paling ikonik lainnya jatuh kepada Amoroso Katamsi yang sukses membawakan karakter Mayjen Soeharto sebagai Panglima Kostrad saat itu. Penjiwaan karakter yang sangat kuat membuat Amoroso Katamsi berhasil menyabet penghargaan bergengsi sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia tahun 1984.
Sementara itu, tokoh pimpinan PKI yaitu D.N. Aidit diperankan dengan apik oleh sastrawan Syu'bah Asa sebagai bagian dari alur cerita utama gerakan tersebut. Sebagaimana dilaporkan para pengamat film, penggambaran karakter dalam sinema ini sarat akan muatan narasi politik resmi era Orde Baru yang hingga kini masih sering menjadi bahan perdebatan sejarah.
Deretan aktor pendukung lainnya seperti Wawan Wanisar sebagai Kapten Pierre Tendean, Rudy Sukma sebagai Jenderal A.H. Nasution, hingga K. Tumbuan yang memerankan Ade Irma Suryani berhasil menghadirkan unsur emosional yang mendalam bagi para penonton. Kehadiran para seniman berbakat ini membuktikan bahwa film G30S/PKI tidak sekadar menjadi doktrin sejarah, tetapi juga mahakarya dalam kancah perfilman tanah air.