Kementerian Pendidikan Amerika Serikat menghadapi gugatan hukum setelah dituduh masih melaporkan utang mahasiswa yang telah dihapuskan kepada biro kredit utama. Berdasarkan gugatan class action yang diajukan bersama Project on Predatory Student Lending, pinjaman yang seharusnya sudah lunas justru masih tercatat aktif dengan akumulasi bunga berjalan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kebijakan penghapusan utang tersebut sebelumnya diberikan kepada para mahasiswa yang menjadi korban penipuan atau pelanggaran institusi pendidikan antara April 2022 hingga Januari 2025. Namun, berdasarkan temuan dalam laporan hukum, ratusan ribu debitur mendapati data keuangan mereka tetap bermasalah karena status pinjaman belum diperbarui.
Menurut analisis tim redaksi, kelalaian administratif semacam ini memberikan dampak destruktif bagi stabilitas finansial para debitur jangka panjang. Data historis kredit yang tidak akurat secara langsung menghambat peluang mereka untuk mengajukan KPR, menyewa hunian, hingga mencari pekerjaan baru.
"Pemerintah tidak bisa mengatakan kepada peminjam bahwa pinjaman mereka telah dibatalkan, namun di sisi lain tetap melaporkannya sebagai utang," ujar Eileen Connor selaku presiden dan direktur eksekutif Project on Predatory Student Lending dalam keterangannya.
Menanggapi persoalan tersebut, para ahli menyarankan debitur yang pernah menerima fasilitas penghapusan pinjaman untuk segera memeriksa riwayat kredit secara berkala melalui layanan resmi. Langkah verifikasi mandiri ini penting dilakukan guna memastikan status akun pada sistem bank dan biro kredit telah benar-benar menunjukkan saldo nol rupiah.